Senin, 07 Maret 2011

“Habibie dan Ainun”



“Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini , telah menjadi terapi untuk mengobati kerinduan. Rasa tiba-tiba kehilangan oleh seseorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya dalam berbagi derita dan bahagia, karena antara saya dan Ainun adalah dua raga tapi hanya satu jiwa”, tulis Bacharuddin Jusuf Habibie dalam kata pengantar buku Habibie dan Ainun.

Buku yang diluncurkan dalam rangka mengenang alm dr Hj Hasri Ainun Habibie ini menceritakan sedikit mengenai kehidupan Prof BJ Habibie bersama istrinya. Pahit dan manis menjalani kehidupan membangun karir di negeri Jerman dengan kehidupan yang pas-pas an, sampai hadirnya Ilham Akbar dan Thareq Kemal yang semakin melengkapi kehidupan berumah tangga dikisahkan sangat memukau.

Berawal dari pertemuan yang tidak sengaja di kediaman keluarga Besari, BJ habibie muda bertemu dengan Ainun kembali setelah 7 tahun tak bersua. Saai itu BJ sudah bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah Institut Konstruksi Ringan di Jerman dan Ainun sudah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sambil mengambil pendidikan dokter ahli penyakit anak. Proses pertemuan singkat itu membawa cerita lain, 12 Mei 1962 BJ Habibie dan Ainun menikah.

Ainun mengorbankan hobi dan pekerjaannya demi membangun keluarga yang sakinah. Meskipun Habibie  memiliki banyak kesibukan tapi itu bukan hal yang menjadi masalah, “Saya belajar menggunakan waktu secara maksimal sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik.  mengatur menu murah tetapi sehat, membersihkan rumah, menjahit pakaian, pendeknya membuat suasana rumah yang nyaman sehingga suami dapat memusatkan perhatian pada tugasnya. Saya belajar untuk tidak mengganggu konsentrasinya dengan persoalan di rumah. Saya terharu, ia membantu tanpa diminta, mencuci piring, memberishkan popok bayi.”

Prestasi BJ Habibie yang gemilang di pekerjaannya membuat ia bnayak menerima proyek pekerjaan bahakn sampai dipromosikan untuk menjadi guru besar di Jerman. Ainun mendukung dengan sepenuh hati. Namun, rasa cinta kepada tanah air membuat Habibie harus memikirkan banyak cara untuk membangun bangsa walaupun ia berada di jerman. Berulang kali bertemu dengan presiden Soeharto di berbagai kesempatan, berdiskusi panjang dengan direktur pertamina menggerakkan hatinya untuk menerima tawaran kembali ke Indonesia mendidik putra-putri terbaik bangsa mengembangkan konstruksi pesawat terbang yang kemudian dikenal dengan IPTN.

“Ainun yang saya kenal sejak 48 tahun lalu tetap ainun yang dulu perhatiannya kepada suami, ketulusan, kejernihan wajah dan pandangannya yang meneduhkan hati, tak ada yang berubah sedikitpun. Tak ada yang berubah pada sikapnya, pada posisi dan jabatan apapun yang Allah amanahkankepada saya, suaminya”.

Habibie dan Ainun
323 halaman
penerbit: PT THC Mandiri
Harga 80.000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar