Selasa, 26 Juni 2018

Menjaga si Kecil Aurora dengan Tapro Syariah

Banyak hal berubah sejak anak hadir dalam kehidupan saya bulan April lalu. Semua terasa ajaib. Selalu ada hal baru yang bisa saya lihat dari Aurora, bayi kecil kami.

Di bulan pertama, ajaib melihat bagaimana Aurora belajar menyusui. Menuju bulan kedua, rasanya juga ajaib melihat Aurora sudah bisa tidur malam dengan nyenyak. Masyaallah, anak bayi sudah bisa membedakan siang malam ya, kapan waktu yang benar buat tidur, tak lagi seperti awal-awal lahir yang nyaris bikin ibunya begadang setiap malam.

Sungguh, kehadiran anak membuat saya belajar dan makin menyadari banyak hal. Anak itu titipan Allah yang sudah seharusnya dijaga. Menjadi ibu juga rupanya semakin membuat saya merasa khawatir. Benar kata seorang teman, semua kekhawatiran yang dulu dirasakan saat hamil belumlah seberapa dibandingkan ketika si anak sudah lahir. Muncul banyak pertanyaan: Apakah saya bisa merawat dan membesarkan anak dengan baik. Apakah saya bisa mendidik dan menjadikan anak saya hingga kelak tumbuh menjadi anak yang berguna? Namun kembali lagi bahwa kekhawatiran itu tidak ada gunanya jika saya tidak memperbaiki diri.

Hari ini, beberapa hari menjelang cuti usai. Saya melihat Aurora tertidur pulas. Bagaimana kalau saya kembali bekerja? Aurora rewel nggak ya? Apa Aurora akan merindukan saya ibunya? Bagaimana kalau saya sampai di rumah dan Auorora sudah tertidur pulas? Subhanallah.... Lalu saya kembali ingat bahwa tugas orang tua adalah mempersiapkan anak hingga kelak dia bisa mendiri meskipun tanpa keberadaan orang tuanya karena kita tidak selalu ada untuk mereka.

Bicara soal masa depan anak, sejak Aurora hadir membuat saya semakin detail mempersiapkan banyak hal. Bagaimana biaya pendidikannya nanti, bagaimana cara pengasuhannya nanti. Bukan hanya itu, kehadiran Aurora membuat saya bertekad untuk semakin menjaga kesehatan.

Jika Allah mengizinkan, saya ingin diberi umur panjang dan kesehatan sehingga bisa menyaksikan Auora (dan adik-adiknya kelak) tumbuh, melihat Aurora memakai toga, menikah, hingga Aurora punya anak. Aamiin...

Umur memang Allah yang menentukan, tapi saya percaya banyak hal yang bisa diupayakan untuk mempersiapkan masa depan yang baik. Yang saya coba lakukan adalah dengan memiliki tabungan proteksi alias asuransi syariah. Tentu tak ada yang ingin terkena musibah, tapi ketika Allah memberikan 'rezeki' sakit misalnya tentu kita manusia harus berikhtiar untuk sembuh. Dan benar kata orang-orang bahwa sehat itu mahal sehingga kita wajib berinvestasi untuk kesehatan. Nabi Muhammad juga mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu yang dapat mengurangi risiko yang mungkin dialami. Begitu pun kita yang perlu berikhtiar melindungi diri dan keluarga.

Foto: Melindungi keluarga dengan tabungan proteksi (ilustrasi dari pixabay)


Dalam salah satu riwayat, Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad SAW. yang hendak meninggalkan untanya. Ia kemudian berkata, “Aku akan membiarkan untaku, lalu akan bertawakal kepada Allah.” Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, “Ikatlah untamu dan bertawakallah kepada Allah.” Hal ini tersirat agar manusia berusaha terlebih dulu menimalisir risiko sebelum akhirnya pasrah dan tawakal kepada Allah.

Banyak produk tabungan proteksi yang bisa bisa dipilih. Salah satunya Allisya Protection Plus. Produk ini memberi manfaat asuransi jika terjadi musibah berupa santunan asuransi dan nilai investasi. Bagi ibu-ibu muda macam saya yang masih belajar menata keuangan dengan baik, produk ini cocok karena bisa memberi manfaat ganda. Apalagi jika dana yang dimiliki cukup terbatas. Ya, namanya ibu-ibu muda kebutuhannya banyak yaa... kebutuhan dapur lah, kebutuhan untuk nantinya sekolah anak-anak yang harus dipikir dari jauh-jauh hari lah, kebutuhan piknik dan macam-macam 'printilan' yang kelihatannya sedikit tapi kalau dirupiahkan ternyata jadi banyak.

Dengan satu produk Allisya Protection Plus, kita bisa mendapatkan perlindungan musibah dan juga investasi. Cocok sekali untuk kita-kita yang memiliki dana pas-pas-an. Ingat... sebagai ibu-ibu kita perlu pegang teguh prinsip pengorbanan sekecil-kecilnya demi manfaat yang sebesar-besarnya.

Kita bisa bebas memilih cara pembayaran secara bulanan, empat bulanan, enam bulanan atau bahkan tahunan. Masa pembayaran premi bebas kita yang tentukan. Nah, kalau sedang ada rezeki lebih, kita bisa top up untuk meningkatkan investasi. Semakin sering top up tentu dana yang diinvestasikan semakin besar dan return yang bisa diterima makin besar. Tak perlu khawatir, dana bisa ditarik jika sewaktu-waktu ternyata kita sedang mengalami keadaan darurat.

Premi yang kita bayarkan nantinya akan dibagi menjadi tiga rekening, yaitu: rekening tabarru (kebajikan) yang digunakan untuk tujuan tolong menolong apabila salah satu peserta mengalami risiko, rekening tabungan peserta, dan yang terakhir rekening perusahaan asuransi. Dengan adanya rekening tabarru (kebajikan) ini asuransi syariah tidak hanya berbicara soal risiko dan investasi, tetapi juga dapat menjadi alat untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia.

Menariknya, produk ini juga cukup fleksibel. Kita juga dapat menambahkan jenis perlindungan lainnya jika dibutuhkan seperti santunan kecelakaan, penyakit kritis, cacat tetap total atau meninggal baik bagi diri sendiri atau pasangan. Artinya, kita bisa menghemat untuk membeli produk serupa dengan manfaat perlindungan yang berbeda. Perlu diingat, kadang ketika kita membeli suatu produk asuransi, hanya terbatas pada jenis perlindungan tertentu. Seiring berjalannya waktu rupanya kita memerlukan proteksi yang lebih. Dengan produk ini jenis perlindungan bisa ditambahkan sesuai kebutuhan. Program ini juga bisa diikutsertakan untuk anak-anak, pasangan, saudara kandung, dan keluarga lainnya.

sumber foto: proteksikita.com


Bagaimana Pengelolaan Dana Allisya?
Seluruh atau sebagian dari premi yang Anda setor akan dialokasikan dan dihitung ke dalam unit dengan menggunakan Harga Unit yang berlaku saat itu. Misalnya harga unit hari ini Rp 2000, maka jika kita menyetor dana Rp 400.000, kita sudah memiliki 200 unit. Jumlah unit inilah yang merupakan dana investasi yang kita miliki. Semakin banyak tentu semakin baik. Semakin lama tentu semakin baik karena investasi di Allisya Protection Plus merupakan pilihan investasi jangka panjang sehingga jangan kaget jika 5 tahun lagi misalnya nilai unit sudah berkembang menjadi Rp 4000 per unit, saat kita ingin cairkan dana investasi kita sudah berkembang dengan cepat. Sebagai informasi, harga unit tergantung dari kinerja pasar. Sebagai prediksi, banyak ekonom yang memperkirakan invesatsi di bidang syariah akan terus berkembang.

Produk apa saja yang bisa dipilih?
Ada satu hal yang jangan sampai lupa ketika memilih produk inmvestasi. Kenali diri Anda sendiri. Jangan asal memilih atau mengikuti produk investasi piliah orang lain karena kebutuhan investasi masing-masing individu tidaklah sama. Pilihlah sesuai kebutuhan dan karakteristik Anda.

AlliSya memberikan kesempatan untuk menginvestasikan dana yang kita miliki kedalam berbagai jenis investasi Syariah yang sesuai dengan berbagai tingkat toleransi risiko dari rendah hingga sedang. Prinsip high risk high return jangan lupa yaa... Kalau mau return tinggi, Anda harus berani berinvestasi di instrumen yang risikonya juga tinggi. Apapun pilihannya, mau risiko tinggi atau rendah, jangan lupa yang penting syariah ya, supaya berkah. Prinsip asuransi syariah berdasar pada hukum Islam, maka produk asuransi syariah tidak menginvestasikan dananya dalam bisnis yang mengandung riba (berbunga) dan hal lain yang diharamkan Islam.

AlliSya Rupiah Fixed Income Fund
Menawarkan pendapatan yang stabil dengan menanamkan modal untuk jangka panjang melalui penempatan dana dalam mata uang Rupiah. Jenis ini diinvestasikan ke dalam instrumen jangka pendek atau menengah seperti deposito, SBI atau reksadana dan instrumen jangka panjang seperti obligasi. Tingkat keamanan dan stabilitas tinggi serta risiko rendah hingga sedang.

AlliSya Rupiah Balanced Fund
Menawarkan pertumbuhan modal jangka panjang dengan menghasilkan pendapatan yang stabil melalui penempatan dana dalam mata uang Rupiah. AlliSya Rupiah Balanced Fund diinvestasikan ke dalam instrumen jangka pendek atau menengah seperti deposito, SBI atau reksadana, dan instrumen jangka panjang seperti obligasi dan saham. Tingkat keamanan dan stabilitas tinggi serta risiko sedang.

Allianz saat ini sedang melakukan kampanye 'Cerita Inspiratif Kado Umroh Allianz'. Anda cukup bercerita tentang seseorang yang ingin Anda balas budi baiknya untuk diberikan Kado Umroh Allianz. Mari berbagi kisah inspiratif...



Jumat, 04 Mei 2018

Anak bayi yang terlambat minum susu


Besok Aurora berusia empat minggu. Hari-hari awal menjadi ibu adalah hari-hari yang ajaib. Hidupmu sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Ada makhluk kecil yang kehadirannya sudah kamu nanti-nantikan selama sembilan bulan, atau lebih.

Dia, yang membersamaimu ketika bekerja, ketika menunggu kereta, ketika nonton di bioskop. Dia yang dulu di dalam perut sering kamu perdengarkan keluh kesah atau cerita-cerita gembira kini sudah ada. Nyata, bisa kamu dekap. Masyaallah..



Tapi, menjadi ibu baru bukanlah hal yang mudah. Meski selama kehamilan kamu sudah mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku atau atlrtikel parenting, tak serta merta ketika bayi mungil itu hadir lantas kamu otomatis bisa menguasai semuanya.

Sama seperti belakar berenang, kamu tidak akan bisa berenang hanya karena membaca buku tentang berenang. Pun demikian dengan menjadi ibu.

Bab merawat bayi di awal-awal menjadi ibu adalah hal yang begitu mendebarkan. Ketika baru melahirkan, tubuh masih 'baru'. Sakit jahitan yang masih terasa, badan pegal yang belum sembuh benar menjadi teman. Belum lagi ketika si kecil merengek minta ASI, dan ASI kamu belum keluar.

Kondisi bayi yang baru lahir, ketika tali pusatnya belum putus ternyata juga semakin membuat panik ibu baru, termasuk saya. Si bayi baru saja beradaptasi dari rahim yang mungkin luar biasanya nyaman, lalu dia datang ke dunia dengan situasi yang mungkin gerah, berisik dan dia harus ikut berjuang untuk bisa makan sendiri.

Itu yang saya rasakan ketika hari-hari pertama menjadi ibu. Ada perasaan 'feel bad' sebab saya tidak bisa menenangkan ketika anak bayi menangis, ASI belum keluar, si bayi juga belum pintar menyusu. Tangan saya belum terampil menggendong, apalagi memandikan bayi.

"Sabar ya nak, maaf ya ASI nya belum keluar," itu kata-kata yang selalu saya ucapkan ketika Aurora, si anak bayi menangis kejer meminta minum.

Tangisannya menggelegar membuat gempar seluruh isi rumah. Pak suami yang mungkin masih beradaptasi juga tampak bingung. Jadilah ibu saya yang menenangkan Aurora. Pak Suami bernyanyi-nyanyi sepanjang malam demi menenangkan Aurora, bergantian dengan ibu.

Sementara saya lebih banyak berada di kamar karena belum bisa gesit bergerak. Jahitan entah berapa centimeter itu terasa nyut-nyutan ketika saya bergerak. Saya mati-matian menjaga agat tidak bersin, tidak batuk dan tidak kentut agar jahitan tidak terasa linu. Ponsel adalah barang yang sama sekali tidak saya sentuh hingga dua atau tiga hari usai melahirkan.

Aurora lahir menjelang Magrib, hari Ahad (8/4). Jadwal kontrol dokter anak adalah hari Kamis (12/4). Sampai hari Selasa malam, ASI saya belum juga mengalir deras meski saya sudah makan daun katuk, atau apa saja pelancar ASI saya makan. Tangis Aurora terus menggelegar, orang tua menyarankan saya agar memberikan susu formula supaya Aurora tidak menangis marah karena kelaparan.

Saya dan suami berdiskusi. Suami bertanya dan meminta saran juga kepada rekan-rekannya mengenai pemberian susu formula pada bayi, di hari ketiga. Saya masih berusaha agar memberikan ASI.

"Ini baru hari ketiga, sabar dulu... Bayi kan memang belum butuh banyak ASI," begitu kata saya menjawab bujukan orang tua perihal pemberian susu formula.

Saya dan suami pun bersepakat akan meminta pertumbangan dokter jikalau memang Aurora membutuhkan susu formula. Jadwal kontrol dokter anak yang seharusnya lusa saya majukan menjadi besok hari. Malam harinya Aurora terus to menangis rewel minta minum, badannya agak hangat.

Jadwal kontrol pun tiba. Aurora ditimbang dan diambil darahnya. Dari hasil pemeriksaan laboraotorium, bilirubin Aurora tinggi. Dokter meminta Aurora untuk tidak pulang tapi menjalani terapi foto alias disinar. Badannya yang agak menghangat kata dokter sebagai salah satu indikasi sel darah putihnya rendah.

Aurora, kata dokter rupanya sedang melawan infeksi. Air ketuban saya ternyata berwarna hijau. Ini diduga menjadi salah satu sebab Aurora agak panas, selain tentu saja Aurora mengakami dehidrasi karena kekurangan ASI dan tidak diberikan susu formula sebagai pertolongan darurat.

Di depan ruang tunggu dokter, banyak ibu-ibu lain yang sedang menunggu anaknya. Kepada kami, mereka bercerita tentang anak-anak mereka yang pernah sakit kuning dan harus disinar.

"Waktu ASI belum keluar, saya juga sambung sufor mbak. Kasihan lapar nangis terus. Kalau kuning, disinar juga ujung2nya dikasih sufor sama Rumah Sakit," kata mereka.

Seketika saya meleleh, dan sedikit menyesal lalu berfikir, seandainya kemarin saya memberikan sufor mungkin Aurora tak harus disinar. Ketika sampai di ruang Peristi, ruang di mana Aurora menjalani terapi foto, saya menerima penjelasan dari bidan tentang proses terapi ini. Bidan 30 tahunan itu menjelaskan apa itu sakit kuning, apa itu bilirubin, kenapa bilirubin tinggi.

"Bilirubin itu racun, dikeluarkan melalui urin dan feses, kebanyakan lewat feses. Tapi kalau bayi kurang minum, urin dan fesesnga sedikit sehingga bilirubin di tubuh masih tinggi. Asi ekslusif itu bagus, tapi kita juga harus lihat sikon. Kalau bayi lapar apa kita harus nunggu Asi ada sementara belum keluar? Teorinya memang bayi tidak diberi makan apa-apa selama tiga hari tidak akan masalah, tapi kondisi bayi beda-beda," bgitu penjelasan bidan yang saya ingat betul.

Penjelasan itu begitu menempel di benak saya sehingga membuat saya makin menyesal. Apa mungkin saya memaksakan diri untuk memberikan Asi? Bisa jadi, saya hanya berfikir jangka panjang nanti.

Tapi bidan membesarkan hati saya, dia bilang jangan menyesal sekarang waktunya menat hati, anak dirawat di rumah sakit sebagau ikhtiar untuk sehat. Hati kecil saya yang lain pun bilang, its oke.. kamu sedang mencoba menjalankan insting seorang ibu.

Saya lantas menandatangani surat izin pemberian sufor untuk Aurora selama perawatan. Aurora dirawat dua malam tiga hari. Selama 24 jam Aurora disinar dan dua hari lain dia harus mendapatkan antibiotik..

Sehat selalu, nak.... Semoga asi ibu lancar terus sampai usia kamu dua tahun nanti. Semoga Allah selalu mencukupkan rezeki bagi Aurora

Jumat, 20 April 2018

Tangis Pertama Aurora


Ahad, (8/4) dini hari menjadi malam yang tak terlupakan buat saya. Sekira pukul 01.00, saya merasa mengompol dalam tidur.

"Astagfirullah... ini kayaknya ketuban pecah," begitu batin saya.

Panik, was-was, campur aduk rasanya. Baru dua jam sebelumnya saya bangun dengan sadar ke kamar mandi, buang air kecil seperti biasa dan semua baik-baik saja. Ini tiba-tiba merembes, dini hari begini. Saya langsung membangunkan ibu yang tidur di kamar sebelah.

"Bu, ini kayaknya ketuban pecah apa ya?" tanya saya.

Ibu langsung memeriksa kamar saya dan langsung meminta saya untuk bersiap-siap ke rumah sakit terdekat. Saya yang merasa ingin buang air kecil lantas ke kamar mandi sebentar. Tapi urung sebab saya takut kalau-kalau ketika buang air kecil, air ketuban langsung nyosor tak terkendali. Alhasil, saya menahan pipis sebisa mungkin.



Saya bersiap, lalu mengabari suami yang masih berada nun jauh di Bekasi sana. Saya memang berencana melahirkan di Banjarnegara. Saat usia kehamilan menuju 34 minggu, saya pulang ke Banjarnegara, dan suami tetap berada di Bekasi. Suami berkunjung biasanya 2 pekan sekali sembari menemani saya periksa dokter.

"Mas, ini ketuban pecah," kata saya melalui pesan WA.
Tak disangka, si mas suami langsung merespons WA saya.

"Udah mau lahiran?" tanya dia.
"Iya kayaknya," jawab saya singkat.

Panggilan telepon suami saya angkat sebentar, hanya memberi kabar, saya sedang bersiap-siap dan akan saya kabari secepatnya. HP saya lowbat dan saya meminta suami untuk menghubungi ibu saya jika ingin mengetahui perkembangan info.

Saya diantar bapak menuju rumah sakit Emmanuel segera. Naik motor. Ibu menyusul berjalan kaki, setengah berlari. Jarak dari rumah ke rumah sakit memang dekat. Mungkin hanya hitungan 400 meter.

Saya masuk ruang IGD, diberi infus segera dan ada dua bidan yang segera memeriksa keadaan saya. Bidan tersebut melakukan vaginal touch (VT) untuk memeriksa apakan ada pembukaan yang menjadi tanda kelahiran. Percayalah, VT itu sangat tidak nyaman dan menyakitkan, hahaha. Saya berontak ketika bidan melakukan VT. Tapi itu sama sekali tidak membantu apa-apa. Tubuh saya begitu kaku dan tegang sehingga VT menjadi sangat menyakitkan (dan bikin trauma ini sungguh wkwkwk).

Bidan yang terlihat cukup galak itu lalu memarahi saya dan saya bisa menjadi lebih tegar. Well, ada kalanya marah membuat tegar, dalam situasi begitu.

"Masih bukaan satu," kata bidan.

Masyaallah, bukaan satu. Butuh berapa lama menuju bukaan lengkap? Dari beberapa referensi yang saya baca, proses pembukaan memerlukan waktu berjam-jam. Banyak orang yang masih bisa beraktivitas bahkan hingga bukaan 4. Ini tentu berlaku buat orang yang melahirkan tapi ketuban tidak pecah dini. Bagi orang yang ketubannya pecah dini, hanya bisa rebahan sambil diinfus.

Petugas rumah sakit meminta keluarga saya untuk segera melakukan administrasi perisiapan kamar bersalin dan sebagainya. Saya dipindahkan dari ruangan IGD menuju ruangan bersalin. Saya diminta tes urine, tiduran menghadap kiri sambil terus diinfus. Saya masih bisa bolak-balik kamar mandi dari kamar bersalin yang hanya berjarak lima meter.

Waktu terasa begitu lambat. Saya tidak merasakan ada kontraksi di perut saya. Semua terasa baik-baik saja seperti malam-malam sebelumnya. Bedanya hanyalah: air ketuban sudah merembes, itu saja.

Saya mencoba untuk tidur, tidak bisa, berbaring bolak-balik kanan kiri saja yang bisa saya lakukan. Memang sedari malam saya merasakan tidur yang gelisah. Miring kanan salah, kiri salah. Hingga jam 07 pagi, bidan kembali melakukan VT untuk memeriksa pembukaan. Bidan yang kini tampak lebih ramah memberikan penjelasan agat VT tidak terasa sakit (tapi tetap saja sakit karena saya melakukan pertahanan diri nggak mau disentuh si bidan).

"Pembukaan satu," kata bidan.

Ya Allah, ini tidak bertambah bagaimana? Memang saya tidak merasakan kontraksi di perut. Saya hanya merasakan pegal-pegal di seluruh badan. Bidan lalu memberikan opsi untuk induksi atau operasi. Di benak saya, ingin segera dioperasi saja karena membaca pengalaman beberapa orang yang melahirkan dengan ketuban pecah dini, hampir semuanya dilakukan tindakan operasi.

Saya lantas meminta pertimbangan suami. Ibu saya masih mendorong untuk melakukan persalinan normal, begitu pula suami saya yang memotivasi persalinan normal. Pun bidan begitu, akhirnya sekitar pukul 07 saya diinduksi. Saya meminum pil dengan dosis seperempat kapsul untuk memicu kontraksi. Bidan bilang hasilnya akan dievalusi tiap empat jam.

Saya masih bertanya, kemungkinan operasi. "Bidan, kalau dioperasi apa hari ini ada dokternya?" tanya saya.

"Belum tahu, hari ini dokter semua libur. Mungkin kalaupun operasi nanti kita hanya konsultasi via telepon saja," kata bidan.

Subhanalloh....

Waktu lambat sekali bergerak. Sekitar jam 08.00 dokter Bowo yang selama ini memeriksa saya datang bekunjung. Saya pikir dia akan memeriksa saya atau apa, tapi ternyta tidak. Dia hanya memberikan semangat.

"Gimana? baik ya? dicoba normal ya? Bisa," kata dokter sambil menepuk kaki saya.

Saya hanya nyengir. Masih tidak ada sakit yang saya rasakan. Di referensi yang saya baca (lagi-lagi referensi) katanya orang mau melahirkan rasanya melilit, tapi saya tidak merasakan itu. Silih berganti bidan yang memeriksa saya tiap 30 menit untuk memeriksa kondisi bayi juga selalu menanyakan, apa perutnya terasa kencang? Saya konsisten menjawab 'tidak' hingga pukul 11.00.

Evaluasi 4 jam pun dilakukan. Jam 11, bidan kembali memeriksa perkembangan pembukaan yang ternyata baru pembukaan dua. Astagfirullah... ini operasi saja apa ya? Air ketuban udah pecah dari tadi, saya menjadi khawatir.
Tapi bidan meyakinkan kondisi bayi baik dan sayapun sudah diberikan antibiotik sehingga Insyaallah semua aman. Saya kembali diberikan induksi, kali ini disuntikkan melalui infus. Kali ini perlahan saya mulai merasakan ada kontraksi di perut.

Saya terus beristigffar tiap kali merasa sakit. Saya memohon ampun jikalau perjuangan melahirkan ini tidak sesuai harapan. Tapi saya tetap mencoba positif, sebab apapun yang terjadi pada saya semua atas kehendak dari Allah, pun orang yang meninggal ketika melahirkan Insyaallah dianggap syahid. Tapi saya meminta diberikan keselamatan. Anak ini membutuhkan saya sehingga saya harus kuat, dan tetap positif.

Terus beristighfar, hingga akhirnya pukul 15.00, waktu yang benar-benar mendebarkan buat saya. Saya berfikir jika memang pembukaan tidak bertambah saya akan meminta izin untuk operasi saja.

"Bukaan enam," ujar bidan.

Alhamdulillah... sebentar lagi lengkap pembukaannya, insyaallah... Masih ada harapan untuk bisa melahirkan dengan normal. Sata terus beristifgfar...

Suami saya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit dari Bekasi. Sekitar jam 16, mungkin dia sudah sampai di RS Emmanuel. Ibu saya lalu meminta saya untuk membisikkan doa di telinga, sehingga persalinan bisa lebih mudah. Ibu saya memiliki feeling, anak dalam kandungan saya sengaja menunggu bapaknya datang saat lahir.

Subhanalloh... tak lama dari kedatangan suami saya, dengan kontraksi yang terus bertambah, saya merasakan ada yang kembali pecah di dalam rahim, entah apa. Saya bilang, "Ini ketuban pecah lagi."

Ibu saya langsung memanggil bidan, dan dua orang bidan yang berjaga sore lalu membantu saya mengeluarkan Aurora dari perut.

Proses melahirkan Aurora mungkin butuh sekitar 15 menit atau 20 menit saja. Saya mengejan, ketika bidan meminta saya untuk mengejan. Sekitar pukul 17.45, Aurora lahir ke dunia. Tangisan pertamanya menggetarkan suasana. Haru, begitu haru dan melegakan.

Alhamdulillah, Aurora lahir dengan selamat... Hal pertama yang saya lakukan usai mendengar tangis Aurora adalah segera meminta maaf kepada ibu saya. Detik saat tangis Aurora terdengar adalah detik ketika saya menyadari betapa banyak dosa yang telah saya perbuat kepada ibu saya. Dosa-dosa tidak taat, dosa-dosa prasangka, dan banyak dosa lainnya.

Aurora, terimakasih nak, kamu mengajarkan banyak hal pada ibumu ini, sejak tangisan pertamamu...
Aurora lahir dengan berat 3,250 kg dan panjang 48 cm


Sabtu, (21/4) hari ke-13 Aurora, anaknya lagi tidur jadi bisa ditinggal nge-blog..
Bersambung cerita berikutnya.....

Kamis, 01 Februari 2018

Suka Duka Mengurus KPR BRI

Harga rumah makin mahal yaaa? Yaiyalaah apalagi kalau liat iklannya Mpok Fenny Rose. "Senen harga naik". Yaelaaah.... bikin pengen cepet-cepet beli rumah biar masih bisa dijangkau.


Banyak cara memiliki rumah. Bagi Anda yang memiliki banyak uang, membeli cash adalah pilihan terbaik. Kenapa? karena nggak pakai ribet. Bayar, selesai. Rumah jadi hak milik. Tapi, buat orang-orang dengan dana terbatas, membeli rumah dengan kredit bisa menjadi pilihan.

Biasanya, kalau kita sudah memilih rumah, developer sudah bekerja sama dengan bank-bank tertentu sebagai mitra. Biasanya sih tidak hanya satu bank yang bekerja sama. Ini keuntungan bagi konsumen karena bisa mempertimbangkan pilihan-pilihan dan benefit yang bisa didapatkan dengan mendapatkan KPR dari bank tertentu. Lain halnya jika developer hanya memiliki satu mitra bank untuk pembiayaan.

Saya mau berbagi sedikit cerita menggunakan KPR dengan bank BRI. Siapa tau bermanfaat. Nanti ada juga tips yang bisa saya berikan. Ohya, kalau ada yang tersinggung (orang bRI) dengan postingan sayaa, yaaa maap, ini hanya testimoni dari nasabah aja. Buat introspeksi diri yee

Proses KPR di BRI bisa dibilang cukup mudah. Hanya saja memang entah mengapa saya sering mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dengan BRI. jadi, proses pengajuan KPR dimulai ketika saya dan suami sudah selesai melengkapi uang muka untuk rumah. Jumlahnya ngak usah disebutin yaaa, biar gampang untuk contoh anggap saja saya bayar Rp 50 juta.

Masih ada berjuta-juta lagi diperlukan untuk rumah itu bisa menjadi hak milik saya. Anggap saja Rp 400 juta (ini contoh yaaa biar gampang nulisnya). Proses pengajuan sudah dilakukan sejak bulan Agustus. Persyaratan sudah lengkap diberikan tapi tak kunjung ada kabar, baik dari bank maupun developer. Dari developer bilang persyaratan sudah diajukan ke bank. Tapi bank tidak ada yang menghubungi.

Bulan pertama, tak ada kabar, bulan kedua tak ada kabar, bulan ketiga seseorang menghubungi suami saya. Ada komunikasi yang terjalin, tapi tidak intens hingga akhirnya ada orang lain yang kemudian menghubungi saya. Kepada saya, anggap saja Mr A bilang, orang yang menghubungi suami saya sudah pindah cabang sehingga berkas terbengkalai. Alhasil, saya harus mengulang persyaratan yang diajukan, termasuk mengulang BI Checking. Okaiii, kita ikuti saja.

Ini kesan pertama yang buruk dalam menggunakan KPR BRI. Hello, kalian yang pindah cabang, saya tidak peduli. Kami nasabah maunya proses cepat. Tapi yaaa, sebenernya ada hikmahnya juga si, prosesnya lama. Artinya saya masih ada waktu untuk menabung atau mengalokasikan bugdet untuk keperluan lainnya.

Dengan Mr A proses berlajan cukup cepat, kalau tidak salah hanya sekitar 2 minggu saja. Tapi, karena sudah kelamaan (dari proses awal) saya agak malas mengurus ulang persyarakatan-persyaratan lagi.

"Hello, kemarin kemana aja mas?"

Setelah mengurus persyaratan, selang sepekan saya kemudian diberikan surat penawaran kredit. Surat ini berisi tentang tawaran jumlah dana yang akan diberikan oleh bank untuk membantu melunasi rumah kami. Saya ingat, saya mendapatkan penawaran ini di bulan November. Saya punya feeling, bank sedang dalam proses kejar target untuk pembiayaan di tahun 2017 jadi mereka ngebut. Saya nya yang udah keburu santai. Nah lo, nggak dari kemarin-kemarin siih....

"Mas, ini penawaran sudah final atau bisa nego lagi," tanya saya.

Yang saya maksud nego adalah, apakah saya masih bisa menambah uang muka sehingga pinjaman saya di bank berkurang dan saya mengurangi tempo pelunasan. Dari yang tadinya 15 tahun menjadi 13 tahun. Yaaa, selisih dikit sih, cuma 2 tahun tapi kalau dihitung-hitung lumayan juga lho selisihnya. Katakanlah Rp 40 juta, waah itu bisa dipakai untuk alokasi keperluan yang lain kaan?


"Bisa sih mbak, tapi proses perlu satu bulan lagi" kata dia.

Sebetulnya, kalau dari awal proses berjalan cepat, nggak terpending oleh alasan marketing pindah cabang, saya ingin sebelum menerima surat penawaran bisa diberikan semacam brosur. Kalau tempo sekian tahun, angsuran jumlah segini.

Tapi, sayangnya karena waktu sudah banyak terbuang di awal, jadi semua seperti buru-buru. yasudahlah, daripada saya menunggu waktu sebulan lagi, itu akan mengacaukan perencanaan keuangan keluarga. Akhirnya, kami putuskan untuk menyepakati tawaran dari bank, lagi pula tidak terlalu signifikan bedanya (lhaaa ini menghibur diri cynt...)


Setelah semua oke, tiba saatnya untuk akad kredit. Banyak komponen yang diperlukan untuk akad kredit. Misalnya, biaya notaris, biaya asuransi dll. Kalau ditotal-total mencapai sekitar Rp 16 juta. Ada satu yang mengganjal dari BRI ini yaitu kewajiban memiliki asuransi jiwa dari mitra BRI alias Bringinlife.

Saya dan suami diwajibkan untuk membayar sejumlah premi asuransi jiwa Bringinlife. Saya termasuk orang yang pro asuransi, tapi sebelumnya saya sudah memiliki produk asuransi lain (yang menurut saya manfaatnya lebih baik dibandingkan Bringinlife).

Beberapa kali saya nego apakah boleh untuk tidak menggunakan asuransi Bringinlife. Saya bertanya kepada beberapa rekan yang bekerja di BRI dan mereka mengatakan tidak wajib menggunakan Bringinlife. Nasabah memang wajib memiliki asuransi jiwa, tapi Bringinlife hanyalah opsional.


Tapiii, menurut Mr A ini kami tetap wajib menggunakan Bringinlife. Baiklahh, saya akhirnya setuju. Toh, yaa mungkin ada manfaat yang bisa diambil dari asuransi ini. Tapiiiiiii.... hampir 1,5 bulan sejak akad kredit ditandatangani salinan polis asuransi belum juga saya terima. Hmmmm..... di toko sebelah kayaknya 2 minggu udah beres sih...

Biar fair, saya mau kasih review juga yang enak soal KPR BRI ini. KPR BRI menggunakan bunga flat selama 5 tahun (bank sebelah kebanyakan cuma 2 tahun ya). Yaaa, selama lima tahun boleh sedikit lega dengan cicilan yang sudah direncanakan. baru deh setelah itu mari kita berdoa semoga Indonesia segera memasuki rezim bunga rendaah.


Rabu, 31 Januari 2018

Pengalaman Mencari Rumah di Bekasi


Semua orang yang sudah menikah pasti menginginkan memiliki rumah sendiri. Ya, begitu juga saya dan suami. Sejak menikah, saya dan suami tinggal di 'rumah dinas' milik mertua.

Kenapa disebut rumah dinas? karena rumah itu sebelumnya tidak digunakan untuk tempat tinggal, namun difungsikan sebagai kantor atau lokasi usaha. Usaha yang dijalankan yaitu usaha di bidang kontruksi. Melayani semacam pengelasan, pembuatan pagar, turap, dan jasa-jasa konstruksi bangunan dan renovasi.




Sudah beberapa kali saya dan suami bicara soal keinginan memiliki rumah sendiri di awal-awal pernikahan. Ya, biar kecil tapi punya sendiri. Biar kita merasakan bagaimana berjuang memiliki rumah.

Tapi, kita termasuk pasangan yang santai. Yaaa.. nggak ngoyo-ngoyo juga nyarinya, soalnya memang belum ada bugdet yang cukup buat membeli. Buat uang muka saja belum cukup, apalagi beli kontan. Dhuaaar!!

Dari beberapa kali riset, yang cukup masuk akal adalah membeli rumah bekas. Kalau dipikir-pikir, rumah bekas pasti lebih murah dibandingkan rumah baru. Catatannya, rumah bekas yang pembelinya lagi butuh uang sehingga bisa dijual dengan harga yang jauh di bawah harga pasar. Eng ing eng...

Beli rumah itu kalau saya bilang memang soal jodoh. Kalau dengar cerita dari orang-orang yang berhasil membeli rumah bekas dengan harga miring memang begitu. Soalnya, kalau buka situs-situs penjualan rumah, rumah bekas pun masih dijual dengan harga tinggi kalau emang penjualnya nggak terpaksa jual alias nggak butuh-butuh banget uang.

Suatu hari, saya dan suami pergi untuk memperbaiki kompor di rumah. Dalam perjalanan memperbaiki kompor itu, suami saya bilang, ada perumahan yang menurut dia worth it untuk dilihat. Kebetulan bapak mertua dan adik juga teryata sedang berada di perumahan itu. Dengan niat awal mau memperbaiki kompor, akhirnya kita melipir lah ke salah satu perumahan di Mustika Jaya, developernya PT Timah.

PT Timah property ini memang masih baru di bidang perumahan. Jadi, BUMN timah ini rupanya memutar uangnya dengan menjajal sektor baaru selain tambang yang memang harganya sedang tidak begitu bagus selama beberapa tahun terakhir.

Perumahan ini lokasinya sekitar 2 km dari tempat saya tinggal sekarang. Dari awal ke lokasi, saya dan suami cukup cocok dengan lokasinya. Meski tempat ini lebih jauh dari arah stasiun, setidaknya tempat ini masih terjangkau dekat dengan tempat tinggal lama dan rumah mertua. Artinya, kalau ada apa-apa semua masih bisa dalam jangkauan. Itu pertimbangan pertama.

Lokasi ini juga tidak terlalu jauh dari jalan raya. Jalan masuk sudah terbangun, bisa dilewati dua mobil meskipun tidak ada angkot lewat persis di depan perumahan. Akses bisa ditempuh menggunakan ojek online. Lokasi kanan kiri masih berupa sawah sehingga tidak begitu bising. Soal lokasi dekat dengan pasar atau sekolah, belum kami pikirkan saat itu tapi besar kemungkinan lokasi perumahan akan dilengkapi akses ruko-ruko sehingga memudahkan untuk beraktivitas.

Pertimbangan lainnya, adalah dari reputasi perusahaan. Oke, PT Timah Properti memang masih baru, tapi yang membuat saya yakin adalah perusahaan ini merupakan anak perusahaan BUMN yang yaaa kalaupun apes-apesnya terjadi masalah dengan perusahaan ini, masih ada sedikit bisa perlindungan dari pemerintah. Alias pemerintah tidak lepas tangan begitu saja secara induk perusahaannya merupakan BUMN (asumsi saya begitu).
Lalu, perusahaan ini memiliki kantor dan galeri marketing yang jelas sehingga kalau terjadi sesuatu dengan proses penjualannya atau pembangunan rumahnya nanti bisa lebih mudah untuk meminta pertanggungjawaban.

Pertimbangan lainnya tentu soal harga. Setelah melihat-lihat ke lokasi, saya cuma tanya satu hal kepada suami: Menurut kamu worth it nggak rumah disini, tipe ini dijual dengan harga segini? Mengingat harga rumah makin hari makin mahal ya bo!

Kalau memang worth it ayo kita berjuang buat ambil, tapi kalau terlalu mahal ya nggak usah dulu nggak pa-pa (dengan asumsi kita masih usaha cari rumah bekas dengan harga, lokasi dan tipe yang lebih bersahabat). Suami saya lalu memandingkan perumahan ini dengan perumahan lain di tempat lain dan bahan-bahan lain yang serupa. Menurut dia, perumahan di sini harganya masih masuk akal.

Akhirnya, bismillahirrahmanirrahim, kami mengambil satu rumah di perumahan itu.. Membayar booking fee Rp 5 juta. Setelah itu masih ada waktu 3 bulan untuk melengkapi uang muka....

Buat teman-teman yang sedang mencari rumah, tipsnya sederhana: yang penting sreg. Sreg sama lokasi, sreg sama harga, sreg sama bangunannya, sreg sama lingkungannya. Ingatlah ketika kita membeli rumah, kita tidak hanya membeli sekadar bangunannya saja, tapi kita juga membeli lingkungan beserta tetangga-tetangganya.

Karena ini perumahan baru, saya berasumsi orang-orangnya juga pasti baru, Insyaallah nambah saudara baru. Biasanya kan kalau sesama baru lebih mudah buat dipersaudarakan. Ya nggak sihh? Maksudnya misalkan dibandingkan dengan kita satu-satunya orang baru di perumahan gitu....

Jangan lupa membandingkan dengan 'toko sebelah' juga yaa.... Jangan lupa juga pelajari material yang digunakan untuk membuat rumah. Misalnya, pondasi terbuat dari apa, lantainya menggunakan jenis keramik apa...

Selamat mencari rumaah....

Rabu, 29 November 2017

Tiap Kehamilan Itu Spesial


“Ih, kok nggak gendut.

“ih, kok nggak buncit.

“Ih, kok gedean perut aku yang nggak hamil.

Hehehehe, pernah ngalamin hal begini nggak buibu? Komentar-komentar orang lain tentang kehamilan kadang menjadi sesuatu yang membuat kita insecure. Itu yang saya rasakan di awal-awal kehamilan, setidaknya sampai usia 4 bulan atau sekitar 16 minggu. Dari hasil pemeriksaan dokter, memang sejak awal hamil sampai usia 3-4 bulan berat badan saya tidak naik sgnifikan. Hmmm, setiap berganti bulan, timbangan hanya naik 100 gram. Hehehe

Baru di bulan keempat menginjak kelima, berat badan saya naik 1,5 kg. Jadi, dari awal periksa kehamilan (25 Agustus) berat saya 54,8 kg. Lalu empat bulan kemudian (20 November) berat badan saya naik jadi 56,4 kg. Alhamdulillah, berat bayi insyaallah sesuai usianya.

Banyak yang bertanya apa saya nggak doyan makan? Kok berat nambahnya hanya sedikit? Hmm, sejak awal kehamilan sampai usia 4 bulan, saya tidak mengalami penurunan nafsu makan. Saya makan seperti biasa karena memang Alhamdulillah tidak mengalami mual yang berarti. Tapi, saya memang tidak mengalami peningkatan nafsu makan yang banyak. Maksud saya, saya merasa hamil tidak menjadikan saya mudah lapar, lalu makan dengan porsi banyak. Saya akan makan ketika lapar, dan itu saya lakukan setiap hari.

Sempat saya merasa, ‘iya ya, kok nggak gendut’... makanya saya happy kalau suami tiba-tiba bilang. “ih, udah gendut sekarang,” hehehe, Alhamdulillah yaaa...

*percayalah buibu, kamu akan bahagia ketika kamu dibilang gendut saat sedang hamil. Setidaknya, orang tidak meragukan kehamilan kamu.

Perubahan fisik saat hamil kadang menjadi hal sensitif. Awalnya saya juga sering baper kalau ada yang komentar soal berat badan, nafsu makan atau ukuran perut, tapi saya lalu menyadari bahwa setiap kehamilan itu spesial. Ungkapan setiap anak itu spesial mungkin berawal dari setiap kehamilan yang spesial.

“Itu Sandra Dewi hamil 9 bulan aja masih kece dan nggak kelihatan gendut, hehe” ini cara saya menghibur diri kalau ada yang bilang soal perubahan fisik ketika hamil.

Coba deh tanya ibu-ibu hamil, pasti pengalamannya akan berbeda-beda. Anyway... apapun, semoga semua ibu hamil sehat selalu ya, diberi kemudahan dan kesehatan hingga melahirkan, dikaruniakan anak-anak yang soleh dan solehah, sehat, berbakti dan berguna. Jadi, apapun keadaan kita disyukuri dan dinikmati saja, yang penting dede bayi sehat...

kalau ada yang bilang, ih kok kurus, atau ih kok gendut banget, lemesin aja say.... yang penting masih dalam koridor sehat dan tidak membahayakan ibu dan calon dede...


Mencari Dokter Kandungan yang Cocok


Assalamualaikum, ketemu lagi kita....
Alhamdulillah, hari ini usia kehamilan sudah menginjak 20 minggu. Separuh perjalanan kita dek... 
Malam ini sembari menunggu suami pulang, saya mau cerita soal perjalanan mencari dokter kandungan yang cocok. Yeah, terdengar berlebihan yaa? Dokter aja cocok-cocokan.. hehe.

Nyatanya demikian. Sejak awal kehamilan, saya sudah diwanti-wanti (hmm dikasih tahu sebenarnya) bahwa pencarian dokter kandungan yang cocok itu tidak mudah. Kenapa? Karena ibu hamil itu sensitif, dan kamu butuh orang yang tepat untuk berbagi kondisi tubuh. Ya, kurang lebih begitu. Itu juga yang saya rasakan.

“Nyari dokter kandungan tu sama kaya nyari pacar. Cocok-cocokan kaka,” begitu kata teman saya.

Saya sempat berganti dokter tiga kali. Di awal-awal kehamilan, saya mencari tahu referensi mengenai dokter spesialis kandungan yang menjadi rekomendasi beberapa teman. Tapi, perlu diingat bahwa semua kehamilan itu spesial. Si A cocok dengan dokter B, belum tentu kita juga demikian.

Pada pemeriksaan pertama, saya bertemu dokter Teuku di RS Ananda Bekasi. Saya memilih RS Ananda Bekasi karena kebetulan saat itu saya sedang menemani suami jalan-jalan di sekitar kawasan Harapan Indah. Rumah Sakit Ananda saya anggap sebagai salah satu rumah sakit yang cukup representatif saya datangi hari itu. Dokter Teuku cukup menyenangkan. Penjelasannya cukup detail tanpa saya banyak bertanya. Sebagai calon ibu, hamil muda adalah pengalaman baru.

“Belum pernah USG ya bu? Ini ada kistanya,” kata dokter.

Deg!! Dokter Teuku memberi penjelasan seperlunya mengenai kista, beserta kemungkinan-kemungkinannya agar saya bisa antisipasi sedari awal. Tapi, ‘kista’ tidak ada dalam benak saya sejak saya tahu saya positif hamil. Penjelasan dokter pun saya terima apa adanya tanpa saya banyak bertanya. Nge-blank begitu dengar ada kista yang ukurannya lebih besar dibandingkan ukuran janin. Waktu diperiksa, kista berukuran 6 cm dan janin baru berukuran 0,2 cm.

Dokter Teuku termasuk dokter yang komunikatif. Beliau memberi saran apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Makanan apa saja yang seharusnya dihindari. Hanya saja, saya sebagai perempuan merasa lebih nyaman ketika diperiksa oleh sesama perempuan. Itulah yang membuat saya tidak lagi datang ke dokter Teuku untuk pemeriksaan yang kedua. Selain dokternya pria, RS Ananda juga lebih jauh dari rumah. Nah, sebagai warga Bekasi, saya memutuskan untuk selanjutnya periksa di RS Hermina saja. (Btw, buat yang di sekitar Kranji dan nyaman-nyaman saja dengan dokter pria, dokter Teuku ini bagus lho..)

Pada pemeriksaan kedua, saya beralih ke RS Hermina. Karena lokasinya cukup dekat dengan rumah. Sebelum ke RS ini, saya mendapatkan masukan dari teman yang dulu juga periksa di sana. Saya mendapat rekomendasi Dr Rikka untuk pemeriksaan kandungan. Oke, saya coba mendaftar untuk menjadi pasien dokter Rikka. Di awal-awal, teman saya ini sudah bilang, dokter Rikka pasiennya membludak. Jadi, harus sabar kalau mau ketemu dokter ini.

Baiklah.... benar saja, saat saya mendaftar via telepon, saya mendapat antrian nomor 24 kalau tidak salah. Sayangnya, beberapa jam sebelum jadwal bertemu dokter, saya mendapat telepon dari RS bahwa dokter Rikka tidak dapat praktik hari itu karena ada tindakan operasi. RS memberi saya pilihan untuk dialihkan ke dokter lain, atau mengikuti jadwal dokter Rikka di hari berikutnya. Saya memutuskan untuk mengganti dokter lain saja karena kebetulan hari itu suami sedang libur. Akhirnya, saya bertemu dokter lain, di RS Hermina.

Dokter yang saya temui hari itu adalah dokter perempuan. Pembawaannya tenang sekali, tenang dan menenangkan. Ketika masuk ruangan, saya langung diperiksa. Komentarnya singkat: ibu sehat, bayi sehat, tidak ada masalah. Hanya itu saja yang diucapkan dokter ini. Hehehe, saya jadi agak mati gaya nih bagaimana menanggapi dokter ini.

“Kista nya nggak usah dipikirin,” begitu kata dokter ketika saya bertanya tentang kista yang ada di rahim saya.

Ketika sampai di rumah, saya membca di forum-forum tentang ulasan dokter ini. Hehe, ternyata memang benar, dokter ini memberi saran seperlunya saja. Dokter memberikan catatan bahwa ukuran kista saya mengecil menjadi 4 cm. Tapi dokter tidak melarang saya untuk makan apapun. Di satu sisi saya menjadi tidak khawatir mengenai kista ini tapi di satu sisi juga saya merasa ‘haus informasi’ hehe. Banyak hal yang ingin saya ketahui (nama dokternya nggak saya sebut yaaa)

Bulan berikutnya saya bertemu dokter Rikka. Yeayyy!!! Pertama masuk ke ruangannya, dokter langsung memperkenalkan diri. Saya ditanyai apa yang saya rasakan, apa yang saya keluhkan, dan beberapa pertanyaan lain yang membuat saya menjadi merasa nyaman. Dokter Rikka terbilang ramah, pemeriksaan juga dilakukan dengan cukup detail. Gaya komunikatif dokter Rikka membuat saya sebagai pasien nyaman meskipun memang antrean dokter ini banyak sekali.

“Ibu jarang minum nih pasti, air ketubannya sedikit,” kata dokter.

Hooo, Pada pemeriksaan bulan ketiga, setidaknya saya butuh waktu hampir 5 jam untuk antre pemeriksaan dan antre obat. Wow banget yaa... Bulan keempat saya masih dengan dokter Rikka...



Kamis, 16 November 2017

Yang Diharapkan Istri dari Suaminya Saat Sedang Hamil


Hamil dan menjadi calon ibu adalah sebuah anugrah. Banyak hal ajaib yang bisa terjadi setiap hari. Ada yang bertumbuh di dalam perut. Bukankah itu hal yang ajaib? Ada yang bergerak-gerak di dalam tubuh, bukankah itu ajaib?
Selain hal-hal ajaib itu, para calon ibu mengalami banyak perubahan pada dirinya. Perubahan fisik, psikis. Semua berubah. Tidak ada yang sama lagi. Konon, banyak perubahan-perubahan yang lantas membuat bingung para suami mereka. Apa saja ya?



wanita hamil akan lebih sensitif
Hormon bisa menjadi satu hal yang menjadi alasan kenapa wanita menjadi super sensitif ketika kamil. Maka dari itu, banyak pemakluman-pemakluman yang harus diberikan oleh para suami. Ketika istrimu tanpa sebab tiba-tiba menangis, tenangkanlah dia. Sesungguhnya tidak ada tangisan tanpa sebab. Meski itu sebab yang sangat sepele.

Tanyakanlah hal yang tidak membuatnya nyaman. Istrimu mungkin tak akan selalu bisa menjawab hal-hal yang kadang membuatnya menangis. Ya, kadang perempuan bingung apa yang telah membuatnya menangis. Tapi, setidaknya tunjukkanlah bahwa kamu peduli. Bahwa dia tidak sendiri melalui semua itu. Jangan pernah membiarkan sendiri seorang perempuan hamil menangis. Itu akan lebih membuatnya sedih.

wanita hamil akan mudah lelah

Membawa dua nyawa dalam satu tubuh tentu berbeda dibandingkan hanya membawa satu nyawa dalam satu tubuh. Hamil akan membuatnya mudah lelah. Jangan protes jika kamu melihatnya sering mengantuk, tertidur atau merebahkan diri. Wanita hamil memerlukan lebih banyak istirahat dibandingkan mereka yang tidak.

Tahukah kamu ketika dia sedang beristirahat, sesungguhnya dia sedang menghemat energi atau menyimpan energi lain yang akan dia gunakan untuk aktivitas berikutnya. Bukankah seorang istri yang hamil sesunguhnya dia juga perlu mengerjakan pekerjaan yang mungkin sama banyaknya dengan wanita yang tidak hamil. Maka dari itu, ringankanlah pekerjaannya.

Bantulah dia menyelesaikan hal-hal yang dulu mungkin kuat dia lakukan sendiri ketika tidak hamil. Jika dia memasak, tanyakanlah apa yang bisa kamu lakukan. Sesungguhnya, perempuan akan lebih suka jika para pria melakukan sesuatu dengan inisiatif mereka. Jadi, para suami sebaiknya memiliki pengertian yang lebih ketika istrinya sedang hamil.

Kamu mungkin tidak akan masalah ketika rumah berantakan karena istrimu tidak sempat berberes rumah, tapi belum tentu bagi istrimu. Bagaimanapun, salah satu hak suami adalah pulang ke rumah dalam keadaan semua rapi. Hal-hal begini yang kadang membuat istrimu tetap harus berberes meskipun dia lelah. Bantulah dia melakukan semua itu.

wanita hamil butuh asupan nutrisi yang baik
Makan untuk satu orang tidak sama dengan makan untuk dua orang. Saat hamil, seorang istri membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Karena ada makhluk kecil di dalam perut yang terus berkembang. Peran suami diperlukan untuk terus mengingatkan istrinya agar memberikan asupan yang baik bagi keduanya supaya sehat selalu. Antarkanlah dia ke dokter dan cari tahu juga mengenai kehamilan. Jadilah pria aktif yang tanggap dan siaga terhadap kondisi istri dan si calon buah hati.

Intinya, wanita hamil butuh diperhatikan lebih dari biasanya. Kadang bukan lelah yang membuat kehamilan seolah menjadi berat tapi rasa kurang diperhatikan. Tunjukkanlah kepada istrimu bahwa dia begitu istimewa. Istimewa meski badannya sudah menggendut. Tunjukkanlah bahwa kamu begitu antusias dengan istrimu dan dengan calon anak kalian. Seringlah memuji. Ketika sudah menjadi istri, para perempuan lebih mudah tersenyum dengan hal-hal 'recehan'. Kadang, kebahagiaannya hanya 'semurah' pijatan di punggung, atau pujian-pujian kecil. Cobalah lakukan itu. Make her feel special everyday. Dengan begitu, niscaya kamu akan dapati istrimu dengan wajah ceria, happy setiap hari...

Rabu, 04 Oktober 2017

Ini yang Dirasakan Istri Ketika Harus Membuang Makanan



Assalamualaikum, ibu-ibu masak apa hari ini? Saya hari ini tidak masak. Lho kok tidak masak, kan masak bisa lebih berhemat?

Bagi sebagian orang, memasak adalah hobi. Saya selalu salut dengan orang-orang yang hobi masak, masak beragam menu, mencoba menu-menu baru. Dan saya lebih salut lagi dengan orang yang jualan masakan atau bahkan buka katering. Woww, salut tingkat dewa

Bagi saya yang skill masaknya biasa saja, memasak hanyalah sekadar rutinitas. Kalau bosan dengan masakan warung ya memasak. Kalau sedang ingin berhemat ya memasak. Kalau sedang mood ya memasak. Pokoknya kalau lagi pengen masak ya masak.

Memasak bisa membuat pengeluaran rumah tangga lebih hemat. Itu pasti. Saya beri contoh, harga sayur paling mahal hanya Rp 5 ribu. Harga lauk, kurang lebih sekitar 12 ribu. Kalau nggak macem-macem belanjanya, saya bisanya di warung cuma menghabiskan uang Rp 30 ribu. Itu bisa seharian, berdua dimakan bersama suami. Kalau tidak memasak, tentu pengeluaran bisa dua atau tiga kali lipat.

Ya, makan nasi padang standar biasanya saya habis Rp 14 ribu sekali makan. Kalau makan 3 kali tinggal dihitung. Kalau berdua, tinggal dikali dua. Jauh kan selisih rupiahnya? Tentu jauh. Tapi banyak hal-hal lain di luar rupiah itu yang membuat saya memilih untuk jarang memasak atau tidak memasak.

Pertama, memasak itu membutuhkan waktu lama. Bagi saya yang masaknya biasa-biasa saja begini, minimal saya perlu waktu 90 menit untuk memasak. Proses yang paling tidak saya suka dari memasak adalah berbelanja. Kalau belanja pagi, ini membuat proses masak menjadi lebih buru-buru.


contoh sampel masakan. biasa aja sih, tapi saya merasa hebat bisa bikin beginian :p

Kedua, masak itu membutuhkan energi dan mood yang baik. Saya yang moody ini sering kali harus merasakan badmood ketika tiba-tiba bangun kesiangan. Atau belanjaan di warung tidak sesuai espektasi apa yang akan dimasak. Tapi karena sudah terlanjur ke warung, maka harus dimasak. Ini membuat mood masak kadang menjadi jelek. hasilnya, ya masakan sering meleset. Entah keasinan, atau kurang asin, gosong, atau semacam itulah..

Ketiga, makanan tidak selalu habis. Ada kalanya kita ingin membuat masakan yang cukup spesial untuk suami misalnya. Saya ambil contoh, ketika suami sedang berpuasa, saya ingin membuatkan makanan yang sedikit istimewa untuk dia berbuka nanti. Namun, terkadang semua tidak berjalan sesuai rencana. Misalnya, suami pulang terlalu malam sehingga dia sudah lebih dulu berbuka di luar. Atau misalnya, ketika sarapan belum selesai semua masakan suami sudah lebih dulu berangkat bekerja.

Ada rasa kesal dan sedih ketika (yang kita anggap) susah payah masak, eh.. nggak dimakan. Ujung-ujungnya makanan dibuang. Well, saya selalu sedih, bete dan (sedikit) ngambek tiap kali harus membuang makanan. Sudah dijelaskan berulang kali memang bahwa suami tidak selalu bisa makan di rumah. Yeaaah, saya mengerti.. memang tidak selalu bisa makan di rumah, tapi menghabiskan waktu berjam-jam di dapur lalu makanan berakhir di tempat sampah itu menyedihkan dan mengesalkan.

jadi, begitulah. para suami, maklumi saja istrimu ketika sedikit ngambek saat kamu tidak makan di rumah, padahal sudah dibuatkan masakan. Sebagai istri kadang memang serba sulit. giliran masak, suami nggak makan di rumah, giliran nggak ada makanan suami pulang cepet. wehwehweh.. aku kudu piye biar nggak buang makanan tapi kalau kamu mau makan udah siap?

Kalau gitu, aku izin kita katering saja sesuai kebutuhan, bagaimana?




Minggu, 24 September 2017

Menjaga Mood dengan Tidur Nyenyak Berkualitas

Assalamualaikum....

Alhamdulillah, kemarin saya dan suami ke dokter kandungan untuk yang kedua. Si jabang bayi di perut udah 3 cm. Semua sehat, alhamdulillah. Sekarang masuk minggu ke-10.
Ingin sedikit sharing.. Dari awal, Alhamdulillah kehamilan saya lancar. Tidak ada morning sickness yang mengganggu aktivitas. Mual-mual sedikit biasanya kalau lapar dan gerah. Untungnya. tiap mual saya selalu sediakan pisang dan semua kembali baik-baik saja. Semoga lancar terus ya nak sampai nanti kamu lahir...

Tapi, namanya juga orang hamil, pasti ada banyak perubahan meskipun tidak mengalami mual-mual. Pernah suatu malam saya bilang ke suami: "Mas, kamu tahu nggak apa yang paling sulit saat hamil?" tanya saya. "Menjaga mood," belum sempat suami saya menjawab, saya sudah memberikan jawaban atas pertanyaan saya sendiri.

Saya ingat, saat saya menanyakan hal itu, mood saya sangat berantakan karena tidak bisa tidur. Saya baru saja selesai piket malam, belum cukup tidur lalu ditambah batuk yang tiba-tiba datang menyerang. Baru tidur satu jam, bangun. Begitu terus sampai pagi. Lelah dan belum tidur benar-benar membuat mood jadi jelek. Malam ketika tidak bisa tidur saya coba isi dengan membaca atau melakukan hal-lain. Tapi, namanya juga capek yaa. Tidur nggak bisa, beraktivitas juga nggak bisa. Kebayang nggak sih bagaimana rasa kesal ketika kamu merasa super lelah tapi tidak bisa tidur? Saya pun menjadi badmood dan rese. Well, saya memang termasuk golongan 'orang yang rese kalau ngantuk'. :p

Ngomong-ngomong soal mood dan ngantuk, saya nggak tahu apakah ibu hamil lainnya mengalami ini atau tidak, tapi saya hampir selalu terbangun minimal tiga kali ketika tidur malam. Dulu, waktu belum hamil tiap malam biasanya hanya terbangun satu kali. Penyebab bangun utama adalah kegerahan.

Saya tinggal di Bekasi yang menurut saya super panas (waktu Depok dan Jakarta sudah hujan, Bekasi masih mentereng tuh panasnya). Pun ketika malam hari. Saya biasanya mulai menyalakan AC mulai pukul 22.00, beberapa saat sebelum tertidur. Suhu AC biasanya saya setting di angka 24 derajat Celcius. Bangun pertama saya akan terjadi sekitar 01 dini hari. Saya mulai merasa kedinginan jadi mau tidak mau saya akan bangun untuk mengambil remot dan mematikan AC kamar.

Setelah merasa sedikit nyaman dengan rasa hangat ketika AC mati, saya pun mulai kembali tertidur hingga akhirnya sekitar satu jam kemudian saya akan terbangun karena mulai kepanasan. Tidurnya drama yah? hahaha. Nah, biasanya kalau tidur drama begini, esok hari mood saya menjadi sedikit buruk. Sayangnya ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Lalu lagi-lagi suami saya menjadi korban 'keresean' saya. Ahahaha, percayalah, orang terdekat Anda akan menjadi korban pertama dari mood jelek Anda. Apalagi, saya mengakui sejak hamil, semua menjadi lebih sensitif. Mood swing terasa sekali. Kadang hanya gara-gara kekenyangan, atau tiba-tiba gerah, mood akan berbuah cepat sekali. Heuheuheu

"Mas coba deh, itu AC nya diatur biar anginnya nggak ke kita, jadi aku nggak kedinginan tiap malam. Kedinginan trus kepanasan, tidurnya jadi nggak nyenyak. heuheueheu," suatu hari saya berceloteh ketika suami menanyakan kenapa saya tidurnya sering gelisah.

"Gimana settingnya, aku nggak tahu. Emang settingan-nya begitu yang. Kalau udah dingin harus kita sendiri yang matikan AC-nya," kata suami saya menenangkan.

Dengan sedikit merajuk saya lalu menceritakan AC di kantor yang entah bagaimana nyaman sekali pemakaiannya. Di kantor saya, AC nya menggunakan Daikin. Remot AC di kantor menjadi barang yang paling dicari ketika seseorang baru masuk ruangan. Maklum, kantor saya bukan seperti kantor-kantor lain yang pekerjanya kompak masuk atau berada di kantor pada jam-jam tertentu. Kantor saya fleksibel. Ada yang masuk jam 12, jam 13, jam 14. Meski jam masuknya tidak kompak, tapi semua selalu kompak mencari remot AC sebagai pelindung cuaca panas di luar.


AC Daikin memiliki teknologi Inverter yang bisa menghadirkan kesejukan maksimal dengan pemakaian listrik minimal. Menurut ulasan di salah satu webstite tentang AC, saya menjadi sedikit paham kenapa saya merasa kedinginan saat sudah menyalakan AC selama hampir 3 jam ketika di rumah. Ternyata, pada saat kita atur suhu remote di 24 derajat, selama PK AC mencukupi untuk mendinginkan ruangan, suhu ruangan akan berada antara 22 sampai 26 derajat. Tapi, kan kita maunya 24, bukan 22 yaaa.


Remot AC jadi barang paling dicari kalau baru sampai kantor


nyaman banget kerja kalau adem begini

Nah, jika kita menggunakan AC Inverter seperti Daikin, suhu ruangan hanya akan antara 23.5 – 24.5 derajat. Sebagai perbandingan kalau pake AC non-Inverter (seperti AC di rumah) suhu bisa 2 derajat dibawah suhu yang diatur. Ini yang membuat suhu menjadi lebih dingin. (Rupanya ini penyebab tidur tidak nyenyak Huhuhu). Alhasil, kalau saya terbangun karena kedinginan,drama berebut selimut pun dimulai. Ahahaha. Sedangkan, kalau pakai AC inverter seperti Daikin kita tidak perlu mematikan AC lagi jam 4 pagi misalnya karena kedinginan. Sebab, suhu yang kita set di remote akan stabil di angka yang kita inginkan.

Selain soal suhu yang lebih nyaman, AC inverter juga lebih hemat listrik. Teman saya yang kerja di PLN pernah bilang begini: Salah satu biang keladi yang membuat tagihan listrik membengkak itu AC, dan mesin cuci. Ini saya tanyakan sebab bulan pertama tagihan listrik rumah saya mencapai Rp 400 ribu. Sebagai emak-emak baru, kagetlah saya. Tapi ya, apa daya kalau nggak menyalakan AC nanti saya tidak bisa tidur. Hahaha biaya reparasi moodnya lebih mahal dibandingkan biaya listrik.

Sekarang, saya tutup mata soal tagihan listrik kalau memang sumbernya dari AC. Meskipun, saya masih merayu-rayu suami untuk mengganti AC di rumah dengan Daikin. Selain lebih hemat listrik, saya lebih menekankan bagaimana AC membuat tidur lebih berkualitas. Tidak perlu bangun untuk mematikan dan menyalakan AC kembali karena suhu ruangan sudah terlalu dingin atau terlalu panas. Pokoknya, kalau AC ya Daikin.